The Last Tear [Part 2]

Title: The Last Tear [Part 2]
Author: talentchrist
Poster: ShinStarKey (@nanonadiaaa)

Main Cast:
Choi Sooyoung “SNSD”, Cho Kyuhyun “Super Junior”,
Hwang Tiffany “SNSD”, Lee Jieun (IU)

Other Cast:
Choi Seunghyun “Big Bang”, Choi Siwon “Super Junior”,
Jang Wooyoung “2PM”, others.

Genre: Horror, Romance
Rating: PG+15, Teens, AU

Disclaimer: Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun, and the other casts are
belong to theirself and God. Story and idea are belong to mine.
Don’t bashing or plagiat! Don’t be the siders please!
Sugen hater or siders go away!
Knights and good reader welcome :)

THANK YOU. KAMSAHAMNIDA. ARIGATOU GOZAIMASU. TERIMA KASIH.

***

Hai semuanya *bow*
Pertama-tama saya mau mengucapkan terimakasih
karena banyak sekali yang perhatian dan terlihat
tertarik pada fanfiction horor gak jelasku ini, haha.

Seperti yang sudah aku bilang, ini fanfiction
horor yang berbau darah. Sekedar mengingatkan,
bagi kalian para reader yang gak suka darah/trauma,
lebih baik jangan dibaca ya^^
Takutnya ada efek samping(?) yang mengganggu
nantinya, aku benar-benar tidak tanggung jawab, hehe.

Segini saja pembuka saya part 2 ini 🙂
Moga-moga, semakin banyak penggemarnya ya 🙂

Dan ingat, jangan lupa RCL, karena
komen kalian satu kalimat saja, bisa
membuat fanfiction ini lebih baik lagi 🙂

Thankyou ~ 🙂

***

The Last Tear

Sooyoung memasuki rumah tempat tinggalnya dengan langkah perlahan. Dia tidak ingin siapapun tahu bahwa sebenarnya dia pulang terlambat, hanya karena alasan yang tidak jelas. Dia pulang terlambat, karena ia memilih untuk pulang terlambat.

Saat Sooyoung berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua, langkahnya terhenti saat tiba-tiba saja suara seseorang yeoja memanggilnya. “Sooyoung-ah,” sapa seseorang.

Sooyoung yang baru saja berdiri diatas tangga langsung menghentikan langkahnya, dan menoleh ke sumber suara. Eomma tirinya sudah berdiri disana. “Kenapa kau baru pulang, Soo?” Tanya Im Yoona, yang notabenenya adalah eomma tiri Sooyoung.

Dengan decakan lidah, Sooyoung menjawab pertanyaan itu, “Apa pedulimu?”

Mendengar jawaban Sooyoung yang kurang sopan  itu, Yoona langsung menatap Sooyoung dengan alis bertaut. “Apa?” Tanya Yoona sekali lagi, tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.

“Aku bilang, ‘Apa pedulimu?’,” jawab Sooyoung sekali lagi sambil berteriak, kali ini dengan nada yang keras dan kasar. “Sooyoung!” teriak Yoona, berusaha menyadarkan Sooyoung bahwa orang yang saat ini berhadapan dengannya adalah orang yang notabenenya adalah ‘eomma tiri’nya yang usianya masih lebih tua darinya, yang harusnya dihormati. Bukan dibentak seperti itu.

Namun belum sempat Sooyoung menjawab, Seunghyun sudah keluar terlebih dulu dari dalam kamarnya yang terletak di dekat tangga. Seunghyun menatap Sooyoung dengan penuh kasih sayang, karena memang dari dulu ia sangat menyayangi yeodongsaengnya itu.

“Apa? Kau kira aku takut jika kau membentakku?” Tanya Sooyoung melawan. Yoona mulai geram. Ia sudah nyaris tidak tahan dengan sikap Sooyoung yang seperti ini.

Sebulan yang lalu, ketika Sooyoung kembali ke Seoul, dia tidak pernah melakukan apa-apa. Setiap hari, ia mengurung diri di kamarnya. Dia hanya akan keluar jika mau minum atau makan, itupun dia tidak pernah makan bersama appa kandung dan eomma tirinya. Dia hanya ingin makan bersama dengan Seunghyun, karena menurutnya hanya Seunghyun lah yang peduli padanya.

Dan Yoona sudah tidak tahan lagi dengan sikap Sooyoung yang selalu pulang malam jika waktu pulang sekolah lebih awal dari yang sebenarnya.

“Eomma tidak habis pikir dengan sikapmu!” kata Yoona frustasi. Otaknya berputar cepat, mencari solusi agar bisa mengubah Sooyoung menjadi anak yang lebih baik lagi jika berada di lingkungan rumah.

“Eomma?” Tanya Sooyoung menyindir, kemudian ia tertawa kecil. “Sejak kapan aku mempunyai eomma sepertimu? Eomma-ku hanya satu, dan dia sudah meninggal sebulan yang lalu!”

Yoona hanya diam. Ia menatap Sooyoung dengan bibir bergetar karena sudah tidak bisa lagi menahan emosinya yang meluap-luap. “Kau memang bukan anakku,” kata Yoona.

Sooyoung tertawa senang. “Geurae. Aku memang bukan anakmu, lantas kau mau apa?” jawab Sooyoung. Yoona mengepalkan tangannya geram. “Memang kurasa dari dulu kau tidak pantas menjadi anak seorang Choi Siwon yang berwibawa,” kata Yoona tanpa sadar.

Mata Sooyoung terbelalak. Tak berbeda halnya dengan Seunghyun yang juga terkejut, ia tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan Yoona.

“Mwo… mworaguyo?” Tanya Sooyoung dengan bibir bergetar. “Membuangmu adalah pilihan yang tepat bagi Siwon! Karena Siwon sama sekali tidak cocok mempunyai anak sepertimu!” jawab Yoona.

Air mata Sooyoung sudah tidak bisa ditahan lagi. Bibirnya bergetar hebat. Air mata mengalir deras di pipi mulusnya. Dan tanpa menunggu aba-aba, Sooyoung langsung berlari cepat menuju kamarnya yang ada di lantai dua untuk mengurung diri.

Seunghyun menatap kepergian Sooyoung, kemudian menatap Yoona yang saat ini duduk frustasi di sofa dekat tangga. “Eomma keterlaluan!” teriak Seunghyun kemudian ia berlari menyusul Sooyoung ke kamarnya.

Sooyoung memasuki kamarnya dengan hati hancur. Semuanya serasa menyakitkan baginya. Tidak ada yang baik untuknya selama ia ada di dunia ini. Kalau eomma-nya masih ada, mungkin hanya eomma-nya saja yang mau mendengarkan keluh kesahnya saat ini.

Sooyoung membanting pintu kamarnya dengan keras. Ia melemparkan tasnya ke sembarang arah, kemudian ia langsung menelungkupkan wajah di atas bantal tempat tidurnya. Ia menangis sejadi-jadinya hingga bahu dan punggungnya bergetar.

Sedangkan Seunghyun, ia langsung berlari menuju kamar Sooyoung yang ada di lantai dua, kemudian membukanya dengan hati-hati. Dilihatnya yeodongsaeng satu-satunya itu menelungkup diatas tempat tidur.

Seunghyun memasuki kamar Sooyoung dengan langkah perlahan dan menutup pintunya, kemudian berjalan mendekat kearah Sooyoung dan menepuk pelan bahu yeodongsaengnya.

“Soo,” sapa Seunghyun. Namun tidak ada jawaban. Hanya isakan dan segukan saja yang terdengar. “Jangan dengarkan kata eomma. Kurasa dia tidak berniat mengatakan hal itu,” kata Seunghyun berusaha menenangkan, namun tidak dianggap sama sekali oleh Sooyoung.

“Appa sangat menyayangimu, dan seharusnya kau tahu itu,” kata Seunghyun sekali lagi, dan tak lama kemudian Sooyoung mendongakkan wajahnya dan menatap oppa-nya itu dengan wajah sembap dan mata yang membengkak karena habis menangis.

“Kalau memang ia menyayangiku, kenapa ia membuangku dan eomma ke Canada? Kenapa? Karena ia membenciku, kan? Karena dia tidak ingin punya anak perempuan, iya kan, oppa!?” jawab Sooyoung dengan sesenggukan di sela-sela ucapannya.

Seunghyun hanya diam. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Sooyoung yang satu itu. Kenapa appa membuang Sooyoung ke Canada? Karena Sooyoung adalah anak perempuan kah? Seharusnya tidak. Karena ketika eomma Sooyoung sudah meninggal, Siwon terlihat sangat menyayangi anak perempuannya itu. Dan Seunghyun sangat mengerti itu.

Tidak berkata apa-apa lagi, Seunghyun langsung memeluk yeodongsaengnya itu erat. “Masih ada aku, Soo. Aku akan melindungimu sampai kapanpun,” kata Seunghyun. Dia sudah tidak kuat lagi membayangkan penderitaan Sooyoung yang begitu sulit.

Ia sangat merindukan eommanya, sama seperti Sooyoung. Namun kali ini yang ada di pikirannya, eomma kandungnya memintanya untuk menjaga Sooyoung yang saat ini benar-benar rapuh dan menggantungkan hidupnya pada eomma kandung mereka berdua, Jung Sooyeon.

***

Tuesday. April 14th, 2012.

‘Jangan biarkan siapapun tahu tentang keluargamu, Soo. Jangan pernah biarkan siapapun tahu, meskipun itu teman terdekat sekalipun.’

Itu adalah kata-kata yang terus terngiang di otak dan telinga Sooyoung. Ia terus berusaha membuat siapapun tidak mengerti asal-usul atau keluarganya, karena dia tidak ingin diolok-olok sebagai anak haram lagi. Sudah cukup baginya mendengar olok-olok dan caci maki dari teman-temannya yang ada di Canada.

“Bagaimana tidurmu semalam, Soo?” Tanya Jieun saat ia dan Sooyoung saat ini berjalan menuju loker murid yang ada di salah satu koridor lantai dua. Sooyoung hanya tersenyum kecil. “Sangat baik, bagaimana denganmu?” jawab Sooyoung berbohong. Ia tidak mungkin membiarkan Jieun tahu bahwa semalaman ia menangis histeris karena perkataan eomma tirinya itu.

“Sejujurnya tidak. Semalaman insomnia-ku kambuh, dan aku sama sekali tidak bisa tidur sampai jam lima pagi. Benar-benar menyedihkan,” jawab Jieun sambil menggeleng pelan. “Kau terkena insomnia?” Tanya Sooyoung.

Jieun mengangguk sambil tersenyum. “Nyaris selama tiga bulan ini, aku terkena insomnia,” jawab Jieun sambil tersenyum. Sooyoung hanya ber-oh ria, kemudian mereka kembali berjalan menuju tangga.

Saat mereka akan berjalan menuju tangga, mereka melewati sebuah televisi pengumuman yang menampilkan pengumuman-pengumuman dalam bentuk video, namun banyak sekali yang menggerombol di depan pengumuman itu, membuat Jieun penasaran dengan apa isi pengumuman itu.

Jieun langsung menerobos gerombolan itu dengan tubuhnya yang kecil, sedangkan Sooyoung hanya diam di tempatnya karena bosan, dan ia sama sekali tidak penasaran ataupun tertarik dengan pengumuman itu.

“Kau mau sekelompok dengan siapa?” Tanya seseorang murid yeoja yang terdengar di telinga Sooyoung. “Seunghyun sunbae. Kurasa mungkin ia mau menerima tawaranku, kkk~” jawab seorang yeoja yang lain. Membuat Sooyoung memincingkan mata karena tingkat kepercayaan diri yeoja itu yang begitu tinggi.

“Kira-kira Seunghyun sunbae akan menerima tawaranku tidak, ya?” “Kurasa aku harus memberikan coklat padanya.” “Cepat hubungi Kyuhyun, supaya ia tidak direbut orang lain.” “Yonghwa sunbae! Bagaimana?”

Lama-kelamaan, Sooyoung penasaran juga. Sebenarnya apa isi pengumuman itu? Kenapa orang-orang yang keluar dari gerombolan itu langsung membicarakan soal ‘pasangan’? Apa ada sesuatu yang harus dilakukan bersamaan?

Tak lama kemudian, Jieun keluar dari gerombolan itu sambil membawa sebuah memo kecil yang ada di tangan kirinya, kemudian berjalan mendekat kearah Sooyoung sambil tersenyum senang dan menunjukkan memo itu kepada Sooyoung.

Tada!” kata Jieun. Sooyoung membaca sekilas memo itu.

Girin Art High School Showcase 2012.

Diwajibkan mencari pasangan (diwajibkan 2 orang tidak lebih atau kurang). Setelah itu, masing-masing kelompok akan diseleksi untuk mencari kelompok mana yang mampu mengisi showcase yang akan diadakan tanggal 4 Mei 2012 mendatang. Seleksi akan dilakukan satu bulan lagi yaitu tanggal 14 Mei 2012. Do the best!

Sooyoung hanya diam. Tidak ada niatan baginya untuk mengikuti seleksi itu maupun untuk mengisi showcase. Menurutnya, itu sama sekali tidak penting.

“Bagaimana? Kau mau ikut kan, Soo?” Tanya Jieun penuh antusias. Sooyoung yang sedaritadi hanya diam tanpa kata, langsung menggeleng pelan. Wajah Jieun yang tadinya tersenyum senang, kali ini hanya diam karena ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

“Waeyeo?” Tanya Jieun penasaran dengan alasan Sooyoung tidak mengikuti showcase kali ini. “Showcase-nya sangat megah, Soo. Kalau kau berhasil, kau bisa didaftarkan di salah satu kantor manajemen artis terkemuka di Korea Selatan. Seperti SM Entertainment, JYP Entertainment, YG Entertainment, at—“

“Sayangnya aku tidak punya alasan apa-apa, Jieun-ah,” kata Sooyoung memotong perkataan Jieun yang mulai mengkhayal. Jieun langsung terdiam. “Kkaja, kita ke loker untuk mengambil buku-bukuku, setelah itu baru kita ke kelas,” ajak Sooyoung sambil menggandeng lengan Jieun.

Namun saat di perjalanan, tiba-tiba mereka berdua berpas-pasan dengan Krystal yang berjalan sendirian. “Jieun-ah, kau sudah baca pengumuman pagi ini, kan?” Tanya Krystal sambil tersenyum senang dan menatap Jieun dengan tatapan berbinar-binar. Jieun hanya mengangguk ragu.

“Kau jadi pasanganku di seleksi nanti, ya,” ajak Krystal. Jieun hanya terdiam dan menatap Sooyoung. Sooyoung hanya mengangkat bahu, memberi isyarat untuk Jieun agar berpasangan dengan Krystal, karena ia sangat yakin ia tidak ingin berpartisipasi dalam acara itu.

“Baiklah,” jawab Jieun. Krystal tersenyum, kemudian melambaikan tangannya. “Kalau begitu aku pergi dulu, annyeong.”

Krystal menatap Sooyoung dengan pandangan meremehkan, lalu ia melenggang pergi meninggalkan kedua yeoja seumuran itu.

***

“Kalian sudah mengerti tentang pengumuman pagi ini, kan, murid-murid?” Tanya Han seonsaengnim sambil tersenyum kepada murid-murid di kelas 11-3. “Ne,” jawab mereka kompak terkecuali Sooyoung dan Kyuhyun yang sama sekali tidak menunjukkan keantusiasannya pada acara showcase yang menurutnya tidak penting itu.

“Saya tegaskan, semua murid harus mengikuti seleksi ini. Dan siapa yang tidak mengikuti seleksi itu, akan dihukum tidak boleh mengikuti pelajaran selama satu minggu,” kata Han seonsaengnim bersifat tegas dan singkat. Dan itu membuat Sooyoung dan Kyuhyun was-was, karena hanya merekalah yang tidak memiliki kelompok.

“Merepotkan sekali,” gumam Kyuhyun yang bisa didengar oleh teman sebangkunya, Choi Sooyoung. Sooyoung hanya menunduk sebentar kemudian kembali menatap kearah Han seonsaengnim.

“Bagi kalian yang sudah memiliki kelompok dan sudah yakin dengan kelompoknya, bisa mendaftarkan diri pada saya sekarang juga. Saya sebut nama kalian satu persatu, lalu sebutkan pasangan kalian, ara?” Tanya Han seonsaengnim. “Ne,” jawab semuanya serempak kecuali Sooyoung dan Kyuhyun. Sooyoung terlihat sangat bingung dengan mencari pasangannya saat ini, sedangkan Kyuhyun terlihat easy-going saja.

Sementara Han seonsaengnim meng-absen dan mendata setiap murid, Sooyoung menatap kedepan kelas dengan penuh harap. Ia sama sekali tidak ingin ikut. Tapi jika ia tidak mengikuti seleksi kali ini, maka ia harus mendapatkan hukuman ‘tidak penting’ yang ditentukan oleh pihak sekolah.

Sooyoung mengelus-elus tengkuknya frustasi. Ia benar-benar bingung.

“Kau sudah punya kelompok?” Tanya Kyuhyun. Sooyoung hanya diam, kemudian menggeleng. Kyuhyun mendesah. Dia bingung saat ini. Mengajak Sooyoung untuk sekelompok dengannya atau tidak?

Sedaritadi pagi, saat ia baru saja menapaki lantai sekolah tempatnya belajar, berbondong-bondong yeoja mendatanginya dan memohon kepadanya untuk menjadi pasangan mereka, namun Kyuhyun dengan halus menolak ajakan itu, karena ia sama sekali tidak berniat mengikuti showcase tersebut.

Namun siapa sangka bahwa setiap murid wajib ikut. Dan Kyuhyun tidak mempunyai pasangan sama sekali saat ini.

“Kau mau menjadi pasanganku?” Tanya Kyuhyun. Sooyoung menatap Kyuhyun dengan mata terbelalak. “Apa? Kau tidak punya pasangan?” Tanya Sooyoung tidak percaya. Padahal prediksinya, pasti banyak sekali yang meminta Kyuhyun untuk menjadi pasangan yeoja-yeoja yang ada di sekolah ini. Dan prediksinya benar, hanya saja Kyuhyun ‘menolak’ permohonan para yeoja itu.

Kyuhyun menggeleng, memberi jawaban pada Sooyoung bahwa ia tidak mempunyai pasangan saat ini. Dan Sooyoung pun mengangguk, memberikan jawaban pada Kyuhyun bahwa ia menerima menjadi ‘pasangan’ Kyuhyun untuk seleksi nanti.

“Baiklah,” jawab Sooyoung. “Tapi jika yeoja-yeoja yang mengemis cinta padamu itu membenciku, maka kau yang bertanggung jawab,” kata Sooyoung memberi syarat. Kyuhyun mendecih kemudian mengangguk pelan.

Entah kenapa rasa takut menjalar di nadi Sooyoung. Ia merasa bahwa pasti akan banyak sekali yang membencinya, jika mereka semua (baca: fans Kyuhyun) tahu bahwa Sooyounglah yang akan menjadi pasangan Kyuhyun nantinya.

Sooyoung menghela nafas, berusaha menenangkan diri. Masalah di sekolahnya sama sekali tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan masalah keluarganya saat ini.

***

Benar apa prediksi Sooyoung. Begitu semuanya tahu bahwa Sooyoung lah pasangan Kyuhyun, seisi sekolah langsung heboh. Semuanya kerap membicarakan tentang pasangan ‘tidak-masuk-akal’ tersebut.

Setiap kali Sooyoung berjalan melewati gerombolan murid-murid, gerombolan itu akan menatapnya dengan pandangan tidak suka. Mereka benar-benar tidak percaya bahwa Sooyoung berpasangan dengan Kyuhyun.

“Lihatlah perilakunya. Benar-benar menjijikkan. Kenapa Kyuhyun mau berkelompok dengannya, ya?” bisik seorang yeoja, Kim Yui saat Sooyoung berjalan di depannya. Sooyoung yang mendengar bisikan itu, hanya bisa menghela nafas dan berpura-pura tidak mendengarnya.

“Atau jangan-jangan dia pakai mantra? Benar-benar yeoja tidak tahu diri,” kata seorang yeoja dengan suara keras. Sooyoung yang sudah tidak tahan lagi langsung memutar badannya menghadap kearah yeoja yang ternyata adalah Han Sohyun itu.

“Apa maksudmu?” Tanya Sooyoung dingin, tidak terima harga dirinya diinjak-injak seperti itu. “Kau! Kau pakai mantra, kan? Supaya bisa mendekati Kyuhyun?” Tanya Yui penuh ejekan. Sooyoung mengulum lidahnya, kemudian mendecak. “Jaga mulutmu. Atau kau tidak akan pernah kembali ke rumahmu dengan keadaan selamat!”

“Dengarlah! Ia mengucapkan mantra-nya! Dia bersumpah pada tuhan-nya supaya kau tidak pulang dengan selamat, Yui-ah!” kata Sohyun tidak terima. Semua perhatian yang ada di koridor lantai tiga kini mengarah kearah mereka bertiga yang sedang berdebat.

Sooyoung menghela nafas, kemudian berjalan meninggalkan kedua yeoja yang masih terus menatapnya penuh kebencian itu. Biarlah semuanya mengolok-olokkannya. Itu sudah biasa bagi Sooyoung.

***

Saat ini, Sooyoung dan Jieun berjalan menuju kantin. Semuanya menatapi mereka berdua dengan pandangan benci dan tidak suka. Membuat Jieun, yang tidak pernah dipandangi seperti itu, merasa risih.

“Kurasa mereka benar-benar membencimu, Soo,” kata Jieun. Sooyoung hanya menghela nafas, berusaha tidak mempedulikan para murid yang berbisik-bisik menyindirnya.

Saat Sooyoung dan Jieun sampai di kantin, mereka langsung mengambil jatah makanan mereka dan duduk di bangku kosong yang telah disediakan.

“Sebenarnya kenapa mereka sangat membencimu?” Tanya Jieun sambil menatap kearah murid-murid di sekeliling mereka yang menatap Sooyoung sambil berbisik-bisik. “Karena mereka tidak suka aku berpasangan dengan Kyuhyun.”

“Kurasa bukan karena itu, Soo,” kata Jieun sambil menggeleng pelan, sembari membuka plastic mangkuk makanan miliknya. “Lantas?” Tanya Sooyoung bingung.

“Kurasa mereka semua merasa bingung, karena kamu adalah satu-satunya yeoja yang pernah diterima sebagai ‘pasangan’ oleh seorang Cho Kyuhyun yang terdengar dingin dan misterius itu,” kata Jieun. Sooyoung menautkan kedua alisnya bingung, tidak mengerti dengan maksud di balik perkataan Jieun.

“Selama Kyuhyun bersekolah disini, tidak ada satu-pun yang pernah diterima olehnya untuk menjadi kelompoknya setiap kali ia ada acara seleksi seperti saat ini,” kata Jieun menjelaskan.

“Setiap kali ada seseorang yang mengajaknya untuk berkelompok, Kyuhyun selalu menolak dengan alasan ia sudah memiliki kelompok. Padahal, pada saat seleksi sudah diadakan, ia sama sekali tidak terlihat tampil diatas panggung,” kata Jieun. “Dan semua murid menyimpulkan, bahwa sebenarnya Kyuhyun sama sekali tidak ada antusias sama sekali di bidang seleksi-seleksi seperti ini.”

“Hanya kamu yang pernah sekelompok dengannya! Keren, kan?” kata Jieun penuh antusias. Sooyoung hanya tersenyum tipis, kemudian menyendokkan makanan kemulutnya. Namun saat ia melayangkan pandangan kearah lain, ia melihat sesosok yeoja yang semalaman dilihatnya, sedang berdiri tepat di sebelah Krystal yang duduk tak jauh dari tempatnya saat ini.

Tubuh Sooyoung tiba-tiba merasa sangat kaku ketika melihat tatapan yeoja itu. Dan lagi-lagi, Sooyoung membalas tatapan yeoja itu. Ia sama sekali tidak bisa mengalihkan perhatiannya.

Namun, semakin dalam ia menatap mata yeoja itu, tiba-tiba ia melihat wajah yeoja itu yang semula terlihat mulus tanpa cela, berubah menjadi wajah seorang yeoja yang benar-benar hancur. Penuh goresan dan darah di wajah yeoja itu. Benar-benar rusak. Dan mata hitam yang sedaritadi memandang tajam mata Sooyoung, berubah rusak dan penuh darah.

Sooyoung memekik kecil. Dan seketika ia sadar, ia mengedipkan matanya. Yeoja yang wajahnya sudah hancur itu menghilang dari pandangannya. Sooyoung terkesiap. Nafasnya terasa tersengal-sengal. Ia menutup mulutnya tidak percaya. Apa yang barusan dilihatnya?

“Kau kenapa, Soo?” Tanya Jieun panic sambil menoleh kearah tempat yang dilihat Sooyoung. Sooyoung hanya terdiam. Dia masih shock dengan apa yang baru saja dilihatnya. Seorang yeoja dengan wajah cantik yang tiba-tiba berubah menjadi hancur. Jantung Sooyoung masih berdegup dengan kencang.

Gwaenchanhayo?” Tanya Jieun lagi. Sooyoung melepaskan tangannya yang tadinya menutupi mulutnya, kemudian mengangguk pelan. Matanya masih terbelalak.

“Kau sakit, Soo? Biar kuantar ke UKS,” kata Jieun. Sooyoung menelan ludahnya, kemudian menggeleng. “Anniya. Nan gwaenchanhayo,” kata Sooyoung berusaha tenang. Jieun menatap Sooyoung dengan dahi berkerut, kemudian mengangguk. Dia merasa ada sesuatu tidak beres terjadi pada Sooyoung.

***

Sooyoung POV

Apa yang barusan aku lihat? Wajah yang mengerikan yang penuh dengan luka, darah, dan… air mata? Entah kenapa aku tidak bisa melupakan hal itu. Benar-benar tidak bisa. Wajah yeoja yang penuh dendam itu terus terekam di otakku.

Aku menghela nafas. Semenjak aku melihat wajah yeoja itu tadi, aku sungguh-sungguh tidak berkonsentrasi pada pelajaran saat ini. Aku berulang kali menghela nafas sambil menggigit bibirku karena aku berusaha melupakan wajah itu. Wajah mengerikan itu.

“Kau kenapa, sih?” Tanya Kyuhyun. Aku menoleh kearahnya, dan menggeleng pelan. Sedaritadi aku sangat susah berbicara. Mungkin karena aku terlalu shock, karena jujur aku tidak pernah melihat wajah semenyeramkan tadi. “Kau sakit? Wajamu pucat,” kata Kyuhyun lagi. Aku menggeleng cepat.

Kyuhyun hanya menatapku bingung, kemudian ia kembali menatap kedepan dan mencatat sesuatu di papan tulis itu.

Sudahlah, Soo. Mungkin itu hanya halusinasimu saja. Tidak mungkin ada makhluk semenyeramkan itu di sekolah ini. Aku kembali menghela nafas, dan berusaha mengkonsentrasikan diriku pada papan tulis yang ada di depan.

***

“Aku pulang dulu,” kata Kyuhyun tiba-tiba sambil membawa tasnya. Aku yang biasanya hanya terduduk diam diatas bangkuku, langsung menatapnya. “Eo? Ba… baiklah,” kataku sambil mengangguk. Tanpa berkata apa-apa, Kyuhyun langsung berjalan cepat meninggalkan kelas. Kini hanya aku sendirian yang ada di dalam kelas.

Saat aku sedang bersiap-siap, tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang menatapku. Aku pun melihat ke sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Mungkin perasaanku saja. Atau mungkin ini karena rasa takutku tentang hal tadi, yang membuatku tiba-tiba merasakan was-was? Entahlah.

Lebih baik aku cepat pulang. Aku langsung membereskan barang-barangku dengan segera, dan akan berjalan keluar kelas.

Seperti biasa, aku harus berjalan melewati pintu misterius itu. Terkadang aku merasa was-was karena merasakan hal-hal aneh yang tidak biasa. Aura misterius begitu terasa kalau aku berjalan melewati pintu itu.

Tapi tiba-tiba aku melihat Yui sedang berdiri di depan pintu misterius itu. Matanya menatap kosong kearah pintu misterius itu. Rambut panjangnya menjuntai kedepan. Kulit tubuhnya terlihat lebih putih dan pucat dari biasanya.

Aku mengerutkan dahiku samar. Kenapa Yui ada disitu?

“Yui-ah,” sapaku. Yui tidak menjawab. Dia masih menatap kosong kearah pintu itu. “Yui-ah, apa yang kau lakukan disitu?” tanyaku penasaran. Yui yang tadinya menunduk, langsung mendongakkan kepalanya dengan gerakan perlahan, dan menoleh kearahku. Wajahnya pucat. Bibirnya pucat. Semuanya pucat. Matanya terbelalak, dan aku tidak mengerti kenapa ia menampilkan ekspresi seperti itu.

“Yui? Gwaenchanhayo?” tanyaku lagi, memastikan apakah ia tidak apa-apa. Karena wajahnya terlihat seperti orang sakit. Benar-benar sakit seperti tak bernyawa. Bibir keringnya yang pucat itu bergetar, dan keringat sebesar biji jagung menetes membasahi wajahnya. Rambut panjang berponi tirainya itu terlihat lepek karena terkena keringatnya itu.

“Soo… se… lamat… kan… ak… ku…” bisik Yui lirih, terputus-putus. Aku menautkan kedua alisku bingung. Apa maksudnya?

Tiba-tiba Yui menatap kembali kearah pintu itu, dan ia masuk kedalam pintu misterius itu. Apa yang ia lakukan? Bukankah siapapun tidak boleh masuk kedalam pintu itu?

Aku berlari pelan kearah pintu misterius itu. Tertutup rapat. Aku mendekat kearah pintu itu, dan berusaha membukanya. “Yui-ah! Apa yang kau lakukan disana!” teriakku, namun tetap tidak ada jawaban. Aku berusaha memutar kenop pintu itu, namun tetap tidak bisa dibuka.

“Yui-ah! Kau tidak boleh masuk!” teriakku lagi. Namun tetap tidak ada jawaban. Tiba-tiba rasa takut dan khawatir menghantuiku. Aku merasakan Yui sedang dalam masalah saat ini. “YUI-AH!” teriakku lagi sambil menggedor-gedor pintu. “YUI!” teriakku.

“AAAAAARRRRGGGGHHHH!!!” teriak seseorang dari dalam ruangan itu. Aku semakin giat menggedor-gedor pintu itu dengan gerakan cepat. “YUI!” teriakku lagi.

Namun aku langsung menghentikan aktivitasku menggedor-gedor pintu, saat cairan berwarna merah maroon mengalir dari dalam ruangan berpintu misterius itu dan meluber keluar, mengenai sepatuku. Aku berjongkok, dan mencolek cairan berwarna merah maroon itu dengan tanganku. Kental. Apakah ini benar-benar darah?

Mataku terbelalak. Aku kembali menggedor-gedor pintu itu dengan giat. “YUII!!!!!”

***

Author POV

Bunyi sirine ambulan menggema di lobi Girin Art High School. Orang-orang berjubah putih dan berpakaian polisi berjalan bolak-balik melewati lobi bernuansa seni itu. Di tengah-tengah keramaian dan kesibukan itu, Choi Sooyoung, terduduk di salah satu bangku yang tersedia di lobi, dengan selimut berwarna putih menutupi tubuhnya.

Ia terduduk dengan seorang petugas polisi wanita yang duduk disebelahnya. Polisi wanita itu terus menanyakan semua yang berhubungan dengan kejadian sore ini pada Sooyoung, sedangkan dua orang berpakaian jubah putih berjalan melewatinya dengan membawa jasad Kim Yui diatas tandu, yang tertutupkan kain putih.

Dan pada saat itu juga, eomma dan appa Yui langsung datang menghampiri jasad Yui yang berada diatas tandu, dengan air mata deras yang mengalir di pipi mereka. Merasakan kesedihan yang mendalam karena anak semata wayang mereka pergi meninggalkan mereka dengan keadaan sudah tak utuh lagi.

Melihat hal itu, hati Sooyoung sungguh tersentuh. Ia merasa iri, karena Yui memiliki eomma dan appa yang sangat menyayanginya, yang ada disaat Yui dalam keadaan seperti ini. Tiba-tiba Sooyoung membayangkan, jikalau ia berada di posisi Yui saat ini, akankah appa kandungnya merasa sangat kehilangan seperti itu?

Setelah introgasi yang dilakukan polisi itu selesai, Sooyoung langsung melonjak berdiri dari tempat duduknya, saat dilihatnya Seunghyun ada disitu sedang mencarinya dengan penuh ekspresi khawatir.

“Oppa!” panggil Sooyoung, membuat Seunghyun langsung menoleh kearah Sooyoung dan tersenyum lega. Sooyoung berlari pelan kearah Seunghyun dan memeluknya.

Gwaenchanha? Apa yang terjadi?” Tanya Seunghyun saat mereka selesai berpelukan. Sooyoung tidak bisa menjawab. Bibirnya bergetar, dan air mata kembali mengalir di pipinya. “Terlalu menyeramkan, oppa. Darah itu…”

“Sudahlah,” putus Seunghyun sambil kembali memeluk yeodongsaeng kesayangannya. “Wajah Yui sangat mengerikan, oppa. Rusak tak berbentuk. Dan darah itu… masih teringat jelas teriakan Yui di otakku,” jawab Sooyoung dengan sesenggukan di sela-sela kalimatnya.

“Lebih baik kita pulang sekarang, dan biarkan pihak berwajib yang mengatasi ini semua,” kata Seunghyun sambil menenangkan Sooyoung.

Sooyoung sangat berterimakasih kepada oppa-nya itu. Setelah ia mengalami kejadian mengerikan tadi, Sooyoung langsung menelepon Seunghyun dengan segera. Dan setelah Seunghyun mendengar panggilan Sooyoung, Seunghyun langsung menelepon rumah sakit dan ambulans untuk datang ke sekolahnya itu.

Setelah Seunghyun dan Sooyoung ada di dalam mobil, Seunghyun langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, agar mereka bisa sampai dengan selamat di rumah mereka.

***

Wednesday. April 15th, 2012.

Sooyoung berjalan pelan kearah lobi sekolahnya, masih memakai sepatu putih miliknya yang terdapat bercak merah disana karena tidak sengaja terkena darah Yui kemarin sore.

Dan begitu Sooyoung memasuki gedung sekolah, semua pandangan langsung tertuju kearahnya. Jelas saja. Berita kematian Yui kemarin sore langsung beredar luas di kalangan siswa Girin Art High School.

Mereka mengira, bahwa Sooyounglah penyebab kematian Yui kemarin sore. Pengumuman yang terpampang di televisi setiap koridor menayangkan pengumuman tentang kematian Yui, lengkap beserta foto yeoja itu.

Ketika Sooyoung sampai di lokernya, dan akan membuka pintu lokernya, ia mendengar bisikan siswa-siswa lain yang mencemooh-nya.

“Masa’ dia penyebab kematian Yui kemarin?” bisik salah seorang murid namja. “Aku berani jamin! Dialah penyebab kematian Yui sebenarnya!” jawab yang lainnya. Sooyoung menghela nafas lagi, dan ia membuka pintu lokernya. Ia membereskan semua buku-buku miliknya yang akan di pakai untuk pelajaran hari ini.

Saat ia menutup pintu lokernya, tiba-tiba Sohyun beserta murid-murid lainnya, datang bergerombol kearah Sooyoung. Sooyoung yang bingung, tidak bisa berkata apa-apa. Namun ia langsung memekik kecil saat tangan Sohyun bergerak menjambak rambut coklatnya. “Aa!” teriak Sooyoung pelan.

“Kau yang membunuh Yui, kan!?” tuduh Sohyun. “A… apa?” Tanya Sooyoung bingung. Tapi Sohyun semakin mengeratkan jambakannya. “Aa!” teriak Sooyoung lebih keras. “Kau yang membunuh Yui, kan!? Tidak usah pura-pura polos, Choi Sooyoung!” kata Sohyun kemudian menghempas Sooyoung hingga Sooyoung terjatuh diatas lantai.

Sohyun langsung berjalan mendekat kearah Sooyoung, dan menyentuh pipi Sooyoung. Bukan dengan tangannya, melainkan dengan kaki beralaskan sepatu miliknya hingga pipi Sooyoung yang putih dan mulus itu ternodai oleh kotoran-kotoran dan debu yang ada di sepatu Sohyun.

“Wajahmu memang cantik, tapi hatimu kotor!” kata Sohyun sambil tersenyum sinis. Semuanya memusatkan perhatian mereka pada pertengkaran antara kedua yeoja itu saat ini. Sooyoung yang tidak terima langsung bangkit berdiri, dan membersihkan pipinya dengan punggung tangannya.

“Kumohon jaga mulutmu, Sohyun,” pinta Sooyoung pelan. Sohyun tertawa sinis, kemudian menampar Sooyoung dengan tangannya. Pipi Sooyoung memerah, bekas tamparan Sohyun yang bisa dibilang keras jika dibandingkan dengan pukulan yeoja pada umumnya.

“Ingat, ya, Choi Sooyoung. Pukulanku itu tidak seberapa dibandingkan rasa sakit Yui yang meninggal karena kau bunuh,” kata Sohyun sambil menyundul dahi Sooyoung dengan telunjuknya.

Sooyoung hanya diam. Ia memang merasakan panas yang luar biasa di daerah pipinya, karena tamparan Sohyun yang melebihi batas itu.

Saat Sohyun akan berputar balik meninggalkan Sooyoung, entah apa yang ada dipikiran Sooyoung. Yeoja itu menjambak rambut pendek Sohyun dengan keras, hingga Sohyun memekik kesakitan dan ikut menjambak rambut Sooyoung.

Kini pertengkaran itu dipenuhi aksi jambak-jambakan diantara dua yeoja itu. Dan dengan segera, kedua yeoja yang penuh emosi itu dileraikan oleh Kyuhyun yang kebetulan lewat di antara mereka.

“Apa yang kalian lakukan!” teriak Kyuhyun pada kedua yeoja yang rambutnya berantakan itu. Sohyun langsung memasang tampang manja dan penuh kesakitan saat dilihatnya Kyuhyun ada disebelahnya. “Dia yang memulai duluan, Kyuhyun-ah,” kata Sohyun sambil menunjuk Sooyoung dengan telunjuknya.

Sooyoung menautkan alisnya. Apa? Dia? Jelas-jelas tadi Sohyun duluan yang mendatanginya dan menamparnya.

“Apa-apaan kau, Soo!?” bentak Kyuhyun kepada Sooyoung. Sooyoung yang sedaritadi hanya diam dan menatap Sohyun, langsung balik menatap Kyuhyun dengan matanya yang lebar. Air mata menggenang di kelopak mata yeoja itu.

“Kau tidak tahu apa yang akan menjadi resiko jika kau bertengkar di sekolah ini!” kata Kyuhyun tegas. Sooyoung menelan ludahnya dengan susah payah. Ia tidak habis pikir kalau Kyuhyun akan membela Sohyun daripada dia.

Sooyoung tidak berkata apa-apa. Ia langsung beranjak dari tempat itu dan menembus kerumunan-kerumunan orang yang membencinya, dan ia langsung berlari tak tentu arah mengikuti langkahnya.

Sedangkan Kyuhyun yang masih berdiri di tempatnya, menatap kepergian Sooyoung dengan tatapan sendu. Ia tidak percaya bahwa Sooyoung akan melakukan hal ini. Padahal ia tidak tahu, bahwa yeoja teman sebangkunya itu saat ini sedang difitnah oleh Sohyun.

***

Sooyoung POV

Apa yang barusan dilakukan Kyuhyun? Ia membela Sohyun? Aku tidak habis pikir kenapa ia membela Sohyun habis-habisan.

Aku berlari tak tentu arah. Aku hanya berlari mengikuti kata hatiku saat ini, dan yang ada aku justru berlari menuju taman kecil yang ada di balkon lantai tiga, yang biasa disebut laboratorium alam, karena ada banyak tanaman-tanaman disini.

Aku menyandarkan tubuhku pada tembok balkon, dan terduduk disana. Aku menelungkupkan wajahku diantara lututku, dan menangis sepuasnya. Kenapa di dunia ini tidak ada yang mempedulikan perasaanku sama sekali? Kenapa mereka semua seakan menganggapku tidak layak untuk hidup di dunia ini? Apa yang harus aku lakukan, supaya aku bisa membuktikan kepada mereka tentang diriku yang dipandang rendah ini?

Aku seakan sebuah batu kerikil yang tidak ada gunanya sama sekali selain diinjak-injak orang. Harga diriku seakan begitu kecil, layaknya aku tidak pantas untuk mendapatkan hak asasi manusia sama sekali.

Eomma… apa yang harus aku lakukan? Tidak bisakah kau datang dan menenangkanku saat ini? Aku merindukanmu.

 TBC

***

[P.S]
Bagaimana?
Kependekan, ya?
Mianhae, ideku cuma mentok sampai segini 😦
Ini pun dikarenakan karena aku lagi sakit, jadi kurang berkonsentrasi.

Saya minta maaf ya kalau ada typo atau ada kata-kata
yang kurang berkenan. Saya mohon pamit 😀

Pokoknya, jangan lupa RCL, okay?
I really do love my active readers *wink*

Kamsahamnida~

 

Advertisements

31 thoughts on “The Last Tear [Part 2]

    • omoo.. akhirnya setelah berapa lama aku menanti dan terus menanti*jadi nyanyi*
      aku jadi yang first, terima kasih ya ALLAH… *sujud syukur*
      eonnie daebaak bgt..
      kasian soo eonnie.. tpi mau nanya, yui itu yuri atau emang namanya itu yui?
      dan sohyun , namanya emang sohyun atau seohyun?
      eonnie ku sayaang.. sabaaar yaah .. huaaa 😦 😦 😦
      lanjut terus yaah 😉 di tunggu next partnya !

      • hiyah malah nyanyi :p
        huaaa kamsahamnida ^^ haha
        engga, yui itu other cast, dapet dari inspirasi ak sendiri.
        sohyun itu memang sohyun, dia member 4minute 🙂
        thankyou yaa ~

      • hahaha iyaa, saking senengnya *gk nanya
        ne cheonmaenyo^^ hehe
        ohh iya iya,
        iya aku tau sohyun 4minute
        keren eonn.. lanjut yah 😉

  1. aku kedua! aku kedua! 😀
    ituuu… kasian Soo eonni 😦
    Seunghyun oppa bantu adeknya donggg.. masa gak tau sama sekali sama nasib adenya yg difitnah gitu?
    ini juga Kyuhyun oppa langsung makan aja omongan Sohyun -.-”
    gak bisa bayangin keadaannya Soo eonni, kasian bgt.. aku bakalan gak sanggup klo jd dia 😦
    mungkin Yui mati karena sumpah Soo eonni td? trus Tiffany eonni gak sengaja denger, dn dikabulkan deh sama Tiffany eonni(?) *dia kan hantu Fitria, bukan peri =.=”
    baiklah, para readers cuma bisa nebak aja.. lanjut asap yaa, Thor.. FIGHTING and gws dri sakitnya 🙂

    • iyaaa, seunghyun ga tau kalau adiknya difitnah.__.
      dia kan sama aku sekarang *eh* *ditimpuk VIP*
      sama, aku juga gak akan sanggup 😦
      hahaha 😀
      sipp 😉
      thankyou doanya^^

  2. yaampun kasian banget Soo eonni,
    Soo eonni yang sabar yaa, saranghae *eh?*
    Kyu!!! kenapa malah ngebela si Sohyun babo itu?? hah? *esmosi*

    aigoo, penasaran banget,
    lanjutannya ditunggu, jangan lama-lama *maksa* #plakplak

    Fighting ^o^

  3. Akhirnya di publish juga chingu… Soalny udh ditunggu2 sama aq (?) Penasaran banget soalny, oiya ni FF salah 1 dr 3 FF terbaik yg pernah q baca!! Jdi ini FF fav.q juga 😀 part selanjutny jgn lama2 di publish ya chingu, FF nya DAEBAKK!!! FF ny g terlalu pndek koq chingu ^^ tp bikin penasaran.. Hahahh.. Fighting Chinguu!!! Aq menunggu FF mu yg slanjutnya 😀

  4. Akhirnya dipublish juga, setelah baca part 1 besoknya langsung rajin buka KSI & Knights Fanfics. Saking ngebet pengen baca kelanjutannya.
    Ternyata author lagi sakit ya, cepet sembuh author 🙂 Iya, kependekan tapi gak apa2, make me curious 😀 Di part ini kurang begitu serem tapi aku suka KyuYoung momentnya… Kapan mulai ada SiWon POV, Author? Penasaran bgt ama konflik keluarga Choi.

  5. Yah 😦 pendek bgt 😥
    Sohyun minta dikemplang ya? Sini! #digebuk
    Ih..Mereka gatau apa2 tapi udh brani nuduh soo
    Aku suka ff ini! Tragedynya ga terlalu sadis, horornya juga ga terlalu serem jadi enak dibaca.. 😀
    Part slanjutnya cepet ya eon.. Yg panjang ya..
    Hwaiting! (ง•̀⌣•́)ง

  6. Yaah,,kirain kyuppa bakal belain soo eonn, taunya malah belain nenek lampir.. -__-
    next part banyakin kyuyoung momentnya ya thor.. ^^ *kkk~

  7. Huhuhu sedih… Kasian soonnie di tuduh yg menyebabkan yui meninggal pdahal kan yui meninggal gara2 masuk ruangan misterius itu. Terus di fitnah sama sohyun lgi huh kyuppa juga knpa mlah percaya sohyun dri pda soonnie. Mmm d tunggu next part nya

  8. soo yang sabar yaa, ih kyu knapa lebih percaya sama Sohyun sih
    Seunghyun oppa sayang banget sama soo, jagain soo terus ya oppa

  9. huu
    kasian soo unnie
    jahat banget tuh temen-temenyaa
    padahal kan soo unnie berniat mbantuu

    ..
    ..
    lanjut unn

  10. Ini kesalahan besar deh baca FF ini malem-malem . Jadi takut ndiri kan -____-”
    Kayanya ya itu hantunya nyari tumbalnya Soo . Jadi siapapun yang berhubungan ama Soo bakalan dibunuh ama tuh hantu . Jadi disiksa pelan-pelan abis itu langsung balas dendam ..
    Eh iya btw kenapa Siwon kaga pernah muncul ??

  11. huahh , kereen eonii .
    yah aq tau ini horor , ada cerita’y darah”y .
    moga aj dengan baca ini , phobia darah qu malah ilang , bkn malah nambah . amin *gag ada yang nanya* 🙂
    next chap’y d tunggu scepat’y yay thor 🙂

  12. Daebak
    Kasian soo eon difitnah bunuh Yui.
    Yah kyuppa ikutaja. Jd salah paham nih!

    Lanjut ya chingu
    Next part nya bikin yang serem aja 😀

  13. Ayo lanjutin (╥﹏╥) .. Ceritanya seru (º̩̩́Дº̩̩̀) .. Kasian soo (╥﹏╥) *jambak2 rambut sohyun*

  14. semakin menegangkan ><"
    Kasian Syoo eonni
    aslinya it niatan balas dendam atau apa sih?
    lanjut iyaa saeng. Maav baru baca hari ini
    kemaren sinyalnya sedang rapuh. Kekeke~
    Semangat ngelanjutinnya ^^

  15. ffnya always daebak
    sumpah serem banget ceritanya chingu
    itu si yui meninggal dibunuh tifanny kan?
    kasihan soo eonie dibully mulu
    lanjut part 3nya 🙂

  16. Aigo. . .
    Kasihan bnget sih Soo unnie. . .

    Ish yoona nyebelin bnget sih, , ,

    Pengen aku jambak si Sohyun, sembrangan aja m’fitnah Soo unnie, , pake acra nyentuh Soo unnie pake sepatu lagi, ,hati” lo sepatu jelekmu itu bisa merusak wajah berharga unnie ku yg cantik itu. .*reader emosi

    Kyu oppa gampang bnget sih percaya ama omongan orang lain . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s