It’s Hurt [Part 12]

Title: It’s Hurt
Author: talentchrist
Poster: mutiafdh
Theme Song: Let Me Protect You – Kim Jaejoong (Protect the Boss OST)
Main cast: Choi Sooyoung “SNSD”, Cho Kyuhyun “Super Junior”
Other cast: Choi Siwon “Super Junior”, Shim Changmin “DBSK”,
Cho Jino “SM The Ballad”,  Kim Jonghyun “SHINee”,
Daesung “Big Bang”, and others.
Genre: Romance, Sad, Friendship
Rating: PG+10, Teen

Disclaimer: Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun, and the other casts are
belong to theirself and God. Story and idea are belong to mine.
Don’t bashing or plagiat! Don’t be the siders please!
Sugen hater or siders go away!
Knights and good reader welcome :)

THANK YOU. KAMSAHAMNIDA. ARIGATOU GOZAIMASU. TERIMA KASIH.

***

It’s Hurt

Seorang yeoja berpakaian serba hitam saat ini menapaki salah satu gereja Katholik yang berada di kawasan Seoul. Rambut coklat panjangnya ia ikat kebelakang, memberikan konsep rapi. Wajah cantiknya saat ini hanya bisa memasang wajah datar, sementara tangannya memegang sebuket bunga warna-warni didominasi warna ungu.

“Jihyun ahjussi,” sapa yeoja itu ketika bertemu dengan seorang ahjussi yang terduduk di pos satpam gereja itu. “Oh! Choi Victoria agassi,” sapa Jihyun ahjussi sambil tersenyum. “Anda mau mengunjungi makam eomma Anda?”

Victoria tersenyum kemudian mengangguk. “Apakah ada orang didalam?” Tanya Victoria. Jihyun ahjussi menggeleng cepat. “Saat ini pengabuan sedang kosong,” jawab Jihyun ahjussi, “Biar kuantar Victoria Agassi kedalam.”

Sembari berjalan, Victoria hanya bisa menatap sebuket bunga dihadapannya dengan bibir yang menunjukkan senyuman indah, sementara matanya hanya bisa memancarkan kesedihan yang mendalam.

“Kita sudah sampai, Victoria Agassi,” kata Jinhyun ahjussi membuyarkan lamunan. Victoria langsung mendongakkan kepalanya dan membungkuk hormat, “Jeongmal kamsahamnida,” kata Victoria.

Tanpa menunggu aba-aba, Victoria langsung masuk kedalam ruangan khusus tempat perabuan para jasad disimpan. Terdapat banyak sekali laci-laci berisi guci yang menampung abu-abu jasad yang pernah disemayamkan disini.

Victoria berhenti di depan salah satu laci dimana jasad seseorang telah diabukan, kemudian membungkuk hormat. Setelahnya, ia menaruh buket bunga di genggamannya itu di hadapan guci berisi abu jasad itu.

Eomma, annyeonghaseyo. Sudah lama aku tidak pernah kesini,” kata Victoria. “Eomma, apakah eomma baik-baik saja disana? Aku sangat merindukanmu.”

“Kenapa… kenapa saat aku ingin bertemu denganmu, kau justru pergi meninggalkanku?” Tanya Victoria. Matanya yang indah itu mulai berair. “Aku ingat jelas saat pertama kau meneleponku dan berkata bahwa kau, appa, dan dongsaeng akan menyusulku di Seoul.”

“Aku bahagia sekali, eomma,” kata Victoria. Kali ini air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi. “Tapi, saat aku mendengar bahwa kalian mengalami kecelakaan, hatiku benar-benar sakit. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku nyaris bisu, eomma.”

“Mendengar bahwa kau meninggal, adalah kabar terburuk seumur hidupku yang pernah aku dengar. Sampai sekarang aku tidak bisa menemukan dimana appa berada, dan dimana Youngie berada.”

Eommanan neol bogoshippossoyo…”

***

Sooyoung POV

Entah apa yang membuatku tidak bisa menghentikan air mata ini. Aku ini bodoh. Sangat-sangat bodoh. Bagi orang yang mengerti benar tentang ceritaku kali ini, mereka pasti menyangka bahwa aku adalah yeoja bodoh yang lemah, yang tidak berani menatap kedepan. Masalah-masalah yang aku hadapi, aku menyerah. Benar-benar bodoh.

Dimana Sooyoung yang dulu? Sooyoung yang pantang menyerah dan tak putus asa. Berusaha mencari jalan keluar dan berusaha menggapai mimpi yang sedaridulu menghantuiku. Kemana? Aku seakan berubah menjadi seorang yeoja yang hanya bisa berlari menjauh dari masalah, sementara orang lain berusaha keras menyelesaikan masalah itu demi diriku.

Oke, aku hentikan bualan ini. Aku tahu kalian tidak akan pernah mengerti maksudku.

Aku terduduk di salah satu bangku yang ada di dalam bis, dan menatap keluar jendela dengan mata berair. Aku tersenyum miris. Bisakah aku meninggalkan Seoul sekarang?

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Tak butuh waktu lama bagiku untuk melakukannya. Aku ingin menemui appa terlebih dahulu, dan juga Jihyo eonni. Aku ingin mengucapkan selamat tinggal pada mereka.

Tak lama kemudian aku sudah turun dari bis berwarna biru yang tadi aku tumpangi, tepat di dekat halte bus yang terletak tak jauh dari rumah sakit tempat appa dirawat. Aku berjalan pelan kesana, melewati sebuah gang kecil yang adalah jalan pintas menuju rumah sakit itu.

Saat aku berjalan pelan sambil menyeret koper dan menggotong tas besarku, tiba-tiba aku merasakan seperti ada yang mengikutiku. Aku tidak berani menoleh ke belakang, tentu saja. Aku tidak berani menghadapi kenyataan bahwa mungkin saja, ada gerombolan preman atau apapun yang mengikutiku saat ini.

Jantungku berdegup kencang. Aku berjalan semakin cepat, karena aku ingin mengetes apakah langkah kaki itu berjalan cepat mengikutiku juga atau tidak. Ternyata, seperti dugaanku. Aku merasakan seperti ada seseorang mengikuti langkahku.

Aku membelalakkan mataku dan memutar balikkan tubuhku dengan gerakan cepat. Tanpa melihat wajahnya, aku segera menendang perutnya sekeras mungkin dan berlari cepat meninggalkannya. Namun, tiba-tiba aku dihadang oleh segerombolan preman yang menurutku sangat menakutkan.

Aku menyipitkan mataku. Kurasa aku mengenal salah satu dari mereka. Jin… Jinyoung?

“Hei, Agassi. Kau mau kemana?” tanyanya dengan seringaian khas yang menurutku sangat menjijikkan itu. Aku tersenyum sinis, kemudian mengulum lidahku. “Apa pedulimu? Minggir, aku ingin lewat,” jawabku sambil berusaha melewati tubuhnya yang lumayan kekar, tapi dengan segera tubuhku didorongnya.

“Kau pikir semudah itu, kau bisa melewatiku, hei, Agassi yang manis?” kata Jinyoung sambil tersenyum penuh kemenangan. Aku menggenggam koperku kuat, kemudian bersiap-siap akan lari saat tiba-tiba aku mendengar suara ledakan pistol yang nyaris membuatku jantungan.

Aku menoleh ke sumber suara, dan membelalakkan mataku saat aku melihat Siwon ada disana, tak jauh dari tempatku berdiri sambil membawa sebuah pistol berwarna hitam yang ditodongkannya kelangit. Asap tipis keluar dari lubang pistol itu, tanda bahwa pistol itu baru saja digunakan.

“Si… Siwon sajangnim?” Tanya Jinyoung ketakutan. Aku menoleh kembali kearah Jinyoung yang menatap Siwon penuh kesopanan, kemudian membungkuk pelan. Aku kembali mengedarkan pandanganku pada Siwon yang kini menodongkan pistolnya tepat pada kepala Jinyoung, kemudian tersenyum. “Pergi!” kata Siwon yang membuat Jinyoung terbelalak kaget.

Geunde, sajangnimNan—“, “Pergi sekarang, atau kau pulang kerumahmu dengan keadaan kepalamu yang tak utuh lagi,” putus Siwon sambil bersiap-siap akan menekan tuas pistolnya. Jinyoung membungkuk hormat, disusul oleh segerombolan preman lainnya, kemudian pergi meninggalkanku dan Siwon sendirian.

Aku menoleh kearah Siwon yang menaruh pistol miliknya kedalam saku khusus miliknya yang berada di celana bagian kanannya, kemudian ia berjalan mendekat kearahku dengan wajah khawatir.

Neon gwaenchanhaseyo?” tanyanya. Aku hanya tersenyum miris. “Na gwaenchanhayo,” jawabku pelan. “Kau… habis menangis?” Tanya Siwon. Ada apa dengan penglihatannya? Kenapa ia sangat mudah menebak perasaanku?

Aku tersenyum miris kemudian menunduk. Tidak berani mengatakan yang sebenarnya. Tiba-tiba tangan Siwon menggenggam tanganku erat, dan mengajakku pergi dari tempat itu.

Ten Minutes Later…

[Now Playing; 지켜줄게재중 (보스를 지켜라 OST.)]

Dan, yah, aku tidak pernah menyangka ia akan melakukan ini. Mengajakku duduk di sebuah taman dekat rumah sakit dengan segelas kopi yang kugenggam di tangan kananku. Kami berdua terduduk di salah satu bangku sambil meneguk kopi kami masing-masing.

Aku menghela nafas, kemudian menerawang kedepan. “Kamsahamnida,” kataku singkat. Aku dapat melihat dari ujung mataku, Siwon menatapku dengan dahi berkerut. “Untuk?”

Aku tersenyum kecut kemudian berdeham, “Untuk selalu ada saat aku dalam masalah.”

Siwon tersenyum dan menunduk, sedangkan aku menolehkan kepalaku kearahnya. “Kau tahu? Kau seperti Superman saja. Selalu ada saat orang-orang membutuhkan pertolongan,” kataku sambil tertawa.

“Bedanya, aku hanya ada untukmu,” kata Siwon sambil menatapku dengan senyuman khasnya. Aku terdiam, kemudian menghela nafas lagi dan menunduk. “Kau masih belum bisa menerimaku, Soo?”

Apa yang harus aku jawab? Apakah aku harus berkata jujur bahwa aku masih mencintai Kyuhyun? Atau… ah, tidak mungkin aku mengatakannya. Tapi, kalau tidak… maka…

“Sudahlah, tidak usah dijawab saat ini,” kata Siwon membuatku sedikit lebih tenang. Tapi kegelisahan yang aku rasakan masih belum bisa menghilang dari pikiranku.

“Kenapa kau membawa koper?” tanyanya menatap tas koperku yang kuletakkan di dekat kakiku. Aku tersenyum, kemudian menatapnya. “Aku ingin kembali ke Gwangju,” jawabku singkat.

Sambil mengerutkan alis, Siwon membetulkan posisi duduknya kemudian menatapku. “Kenapa?” “Karena tidak ada yang bisa dipertahankan lagi disini,” jawabku singkat.

Aku menunduk. Entah kenapa mataku terasa panas lagi. Aku menarik nafas dalam. Berusaha menahan air mata ini agar tidak jatuh lagi. Namun yang ada justru air mataku menetes perlahan melalui pipiku, membuatku reflex menggerakkan tanganku menghapus air mataku ini cepat.

Tiba-tiba aku merasakan ada tangan seseorang yang sedang menyentuh bahuku. Aku mendongakkan wajahku dan melihat Siwon saat ini sudah bersimpuh dihadapanku dan menjejajarkan wajahnya dengan wajahku hingga aku bisa melihat mata tajamnya saat ini.

Lumayan terkejut, tapi mau bagaimanapun, aku tetap tidak bisa mengekspresikan keterkejutanku saat ini karena aku masih menangis saat ini. Aku menutup mulutku dengan tangan kiriku agar suara tangisku tidak terdengar, namun tetap saja. Suara sesenggukanku tetap tidak bisa disembunyikan.

Author POV

Melihat Sooyoung menangis, benar-benar membuat hati Siwon semakin merasa tersayat. Melihat yeoja yang ia cintai saat ini terlihat rapuh, benar-benar membuat Siwon semakin merasakan nyeri.

Ia menggerakkan tangan kirinya membelai rambut yeoja dihadapannya itu, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk menggenggam erat tangan Sooyoung.

“Menangislah,” kata Siwon. “Tumpahkan semua kemarahanmu dan kekesalanmu saat ini padaku,” lanjutnya. Sooyoung menunduk, kemudian menghela nafas. “Kalau kau ingin memukul seseorang, pukulah aku. Kalau kau ingin memeluk seseorang, peluklah aku. Tumpahkan semuanya.”

Siwon bangkit berdiri, kemudian menarik Sooyoung ikut berdiri sehingga mereka berdua saat ini sedang berdiri di tengah-tengah taman itu. Kedua tangan Siwon masih menggenggam kedua tangan Sooyoung, kemudian melepaskan kedua tangan itu.

“Pukul aku,” kata Siwon yang membuat Sooyoung mendongakkan wajahnya dan menatap Siwon dengan matanya yang memerah dan berair. “Kau sedang marah pada seseorang, kan? Pukul aku.”

Anniya. Aku sedang menyesal pada diriku sendiri,” jawab Sooyoung. “Aku benar-benar membenci diriku sendiri. Aku adalah orang egois yang tidak ingin mempertahankan diri. Aku benar-benar bodoh!”

Siwon menggeleng-geleng dan mencengkram kedua bahu Sooyoung dengan kedua tangannya hingga saat ini Sooyoung menatapnya. “Aku benci diriku, Siwon-ah. Aku tidak ingin hidup lagi. Sejujurnya aku ingin mati. Hanya appa-lah satu-satunya alasan aku hidup. Aku ingin mati saja. Bunuh aku sekarang!”

Tidak berkata apa-apa, Siwon hanya menarik Sooyoung kedalam pelukannya. Siwon memeluk Sooyoung erat sekali. Sedangkan Sooyoung hanya bisa menangis, karena ia sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

***

Kyuhyun POV

Aku benar-benar tidak mengerti apa yang Sooyoung maksud tadi. Dia ingin meninggalkanku? Kenapa? Apakah aku punya salah? Apakah aku mengecewakannya? Pertama kupikir bahwa semua ini pasti karena Sooman sajangnim. Tapi tidak mungkin. Ini sama sekali tidak masuk akal.

Aku mengendarai mobilku menuju rumah sakit tempat appa Sooyoung dirawat. Mungkin saja aku bisa bertemu dengannya disana, karena kemungkinan besar dia pergi kesana untuk menemui appa-nya.

Namun saat aku sudah dekat dengan rumah sakit itu, aku melihat ada dua orang yang sosoknya aku kenal sedang berdiri berdua di tengah-tengah taman itu. Aku menghentikan mobilku dan menyipitkan mataku untuk melihat siapakah mereka.

Mataku membulat saat aku melihat siapa mereka. Itu… Aku melihat mereka berpelukan erat sekali. Sang yeoja tengah menangis sedangkan namja itu sedang menenangkan yeoja itu. Lumayan lama aku melihat mereka berpelukan. Dan itu cukup membuatku merasa tidak berharga.

Aku terhening. Entah apa yang aku bisa katakan sekarang. Inikah semuanya yang dimaksud, ia ingin meninggalkanku? Demi namja itu? Aku menelan ludah dengan susah payah. Sesulit inikah? Aku tersenyum miris, dan menjalankan mobilku menjauh dari situ.

Sepanjang perjalananku menjalankan mobil menuju dorm, entah apa yang merasukiku, air mataku menetes. Eh. Apa ini? Kenapa aku harus menangis demi dia? Dia sudah tidak menganggapku. Dia hanya menganggap namja bernama Choi Siwon itu. Aku tersenyum miris. Ternyata, selama ini aku hanya menjalani cinta yang tak terbalaskan.

Bodoh. Bagaimana kau mau ditipu oleh yeoja macam Sooyoung, Cho Kyuhyun. Kau itu namja tertampan di Korea. Bagaimana bisa kau mau mencintai yeoja buruk rupa seperti simpanse itu. Namun air mataku terus menetes.

Aku sudah tidak kuat lagi. Aku menepikan mobilku di tepi jalan dan menyandarkan kepalaku pada kemudi. Gawat. Kalau aku menangis terus, pasti member-member yang lain akan mengolok-ku namja tidak berguna. Tidak, tidak! Aku tidak boleh begini terus.

Aku kembali menjalankan mobilku dengan kecepatan tinggi. Tidak mempedulikan mobil-mobil lain. Lupakan dia, Kyuhyun-ah. Dia tidak mencintaimu. Ara?

[Music is Stop]

***

Author POV

Suasana di dorm EXO saat ini sungguh sepi. Semuanya saat ini sedang terduduk di ruang tengah bersama-sama, menunggu ketibaan Sooyoung dan Kyuhyun kembali ke dorm. Sama seperti member yang lainnya, Yeonhee hanya bisa duduk di sofa sambil menatap layar iPhone-nya, menunggu pesan singkat dari sahabatnya itu.

“Kenapa Sooyoung belum pulang-pulang?” gumam Yeonhee kesal. Tentu saja. Malam ini Sooyoung berniat akan pulang bersamanya, tapi yeoja tinggi itu tidak juga kembali. “Bagaimana kalau kau kuantar pulang saja?” Tanya Jonghyun menawarkan. Yeonhee mendongakkan kepalanya dan menggeleng.

“Tidak mungkin. Aku harus menunggu Sooyoung. Tidak mungkin aku membiarkannya pulang sendirian,” jawab Yeonhee gelisah sambil menatap kearah Jonghyun khawatir. Jonghyun menghela nafas, sedangkan member yang lainnya masih duduk termenung.

Suasana sepi itu tiba-tiba lenyap saat terdengar suara pintu dorm terbuka. Ternyata Kyuhyun baru saja tiba dengan wajah datar, tanpa Sooyoung bersamanya. “Yah, Kyu-ah. Dimana Sooyoung?” Tanya Changmin.

Kyuhyun hanya menatap Changmin dingin dan melempar kunci mobilnya keatas sofa. “Untuk apa aku memikirkannya? Hanya buang waktu saja,” jawab Kyuhyun dingin kemudian ia berjalan cepat kearah kamarnya.

Mwo? YAH! Cho Kyuhyun! Tadi Sooyoung kan pergi bersam—“ BLAM! Kyuhyun membanting pintunya keras-keras, membuat member-member yang lain menatap pintu kamar berwarna putih gading itu dengan wajah heran.

“Ada apa?” Tanya Daesung bingung. Yeonhee langsung mengangkat iPhone-nya dan memilih untuk menelepon Sooyoung, menanyakan semuanya. Namun, hanya nada sambung yang terdengar. Setelah itu, tidak ada jawaban.

“Bagaimana ini?” Tanya Yeonhee khawatir, berusaha menelepon Sooyoung lagi. Namun sama saja, hasilnya nihil. Jonghyun bangkit berdiri sambil mengambil kunci mobil yang tadi dipakai oleh Kyuhyun, kemudian menatap Yeonhee. “Biar aku antar kau kerumahmu. Mungkin saja Sooyoung sudah pulang.”

Yeonhee menatap mata Jonghyun dengan wajah khawatir, kemudian mengangguk.

Tak memakan waktu lama bagi mereka berdua untuk bisa sampai di dalam mobil. Saat ini Jonghyun mulai menjalankan mobilnya menjauh dari parkiran basement dorm mereka sedangkan Yeonhee masih sibuk menatap layar iPhone-nya, menunggu kabar dari sahabatnya.

“Sebenarnya ada apa dengan mereka?” Tanya Yeonhee khawatir. “Sooyoung-ah, jebal! Kabari aku,” gumam Sooyoung, namun masih bisa terdengar oleh Jonghyun. “Kita tunggu kabarnya malam ini. Kalau tetap tidak ada kabar, terpaksa kita mendesak Kyuhyun untuk menceritakannya kepada kita. Kau tidak usah khawatir,” kata Jonghyun.

Yeonhee menunduk, kemudian menerawang. Ia menerawang lumayan lama, masih khawatir dengan keadaan sahabatnya itu. Namun pandangannya tiba-tiba tertuju pada sesuatu yang berkilauan di dashboard, yang membuatnya langsung menyipitkan mata dan mengambil benda tersebut.

“Ini…” gumam Yeonhee sambil mengamati benda di tangannya itu. Jonghyun menoleh kearah Yeonhee sejenak dengan tatapan heran. “Ada apa?” Tanya Jonghyun penasaran. “Ini kan anting-anting Sooyoung,” kata Yeonhee sambil menunjukkan benda berbentuk bintang itu kepada Jonghyun. Jonghyun menepikan mobilnya dan memperhatikan baik-baik anting itu.

“Kenapa ada disini?” Tanya Jonghyun. Yeonhee mengangkat bahu, menandakan bahwa ia tidak mengerti. Saat tiba-tiba tangan Jonghyun meraih anting itu. “Biar aku yang menanyakan pada Kyuhyun,” kata Jonghyun. Yeonhee hanya mengangguk, kemudian kembali menatap kedepan.

***

Kyuhyun POV

Aku terduduk di tepi tempat tidurku. Masih menerawang kedepan, membutuhkan penjelasan saat ini juga. Apa yang terjadi sebenarnya? Aku masih tidak mempercayai kesadaranku saat ini.

Aku menoleh kearah nakasku. Ada gunting diatas sana. Aku menyipitkan mataku. Mungkin aku bisa menyadarkan diri dengan gunting itu?

Entah apa yang merasukiku, aku meraih gunting itu dan memakainya untuk menyayat jari telunjukku sendiri. Sakit. Ini benar-benar sakit. Darah segar mengalir melewati jari ku itu. Jadi ini bukan mimpi? Ini kenyataan?

Aku mengemut jari telunjukku dan menyedot cairan berwarna merah itu agar berhenti, kemudian mengambil tissue dan membersihkannya. Bodoh. Kenapa aku melakukan itu tadi?

Kurasa aku benar-benar sudah gila. Sudah habiskah kesadaranku? Entah kenapa ingin rasanya aku menghajar Choi Siwon tadi. Tapi tidak mungkin aku menghajar namja yang kenyataannya dicintai oleh yeoja yang kucintai sendiri.

Aku merogoh kantongku untuk mengambil sesuatu, saat kusadari benda yang kucari itu tidak ada. Choi Sooyoung yang bodoh. Tidak tahukah ia aku ini sangat ceroboh. Benda sekecil itu pasti akan mudah hilang jika aku memegangnya.

Tunggu sebentar. Untuk apa aku menyimpan benda itu? Toh tidak ada gunanya. Sama halnya aku hanya mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin bisa dicapai. Aku menoleh kembali kearah salah satu foto milikku yang ada diatas nakas. Bukan, itu bukan fotoku. Tapi foto seorang yeoja bodoh yang tidak memahami betapa besarnya cintaku padanya.

Aku mendekat kearah foto itu dan menggapainya, kemudian mengelus wajah foto itu dengan ibu jariku. “Dasar bodoh…” gumamku sambil tersenyum masam. Bagaimana bisa ia tersenyum semanis itu? Benar-benar bodoh.

Aku merasakan air mataku jatuh di wajahku yang tampan ini. Aku dengan segera membasuhnya dengan punggung tanganku. Untuk apa aku menangisimu? Lihatlah, Choi Sooyoung! Gara-gara kau, seorang Cho Kyuhyun yang tampan dan murah senyum ini menangis.

Bukannya berhenti, air mata itu justru mengalir semakin deras. Dan beberapa tetes jatuh mengenai wajah yeoja yang ada di foto dihadapanku ini. Aku menunduk.

Kenapa aku selemah ini? Kenapa aku serapuh ini? Bisakah seseorang memberikan kekuatan padaku sekarang?

***

Tomorrow…

Author POV

“Yah! Hyung!” panggil seseorang yang membuat tidur Kyuhyun terganggu. Kyuhyun menatap namja yang membangunkannya ini nanar, kemudian kembali menyembunyikan wajahnya dibawah selimut. “Lima menit lagi~” pintanya manja.

“Eh, tidak ada lima menit lagi. Bangun sekarang atau aku akan menyirammu dengan air dingin!” ancam namja bernama Jonghyun itu. Kyuhyun mengerang kecil. Sejujurnya ia malas bangun pagi ini. Kalau saja Jonghyun itu tidak mengancamnya, ia tidak akan bangun.

“Baiklah, baiklah… aku akan bangun. Tapi kalau kau mengancamku lagi, aku tidak akan segan-segan mengancammu balik! Ara?” kata Kyuhyun tidak mau kalah sambil bangun dalam posisi duduk. Jonghyun bukannya pergi, ia justru duduk di tepi tempat tidur Kyuhyun dan mengeluarkan sesuatu yang membuat Kyuhyun terkejut.

“Ini milik Sooyoung, kan, hyung?” Tanya Jonghyun layaknya mengintrogasi. Kyuhyun hanya termenung sambil menatap anting itu tidak percaya. “Darimana kau mendapatkannya?” Tanya Kyuhyun penasaran.

Jonghyun menghela nafas. “Sebenarnya aku tidak mengerti apa masalah kalian saat ini, tapi… barusan Yeonhee bercerita padaku bahwa Sooyoung kembali ke Gwangju,” kata Jonghyun, khawatir.

“Kenapa kau tidak mengejarnya?” Tanya Jonghyun spontan yang membuat Kyuhyun hanya bisa membisu karena tidak mengerti harus berkata apa. “Hyung,” sapa Jonghyun, “aku tahu Sooyoung pasti sangat mencintaimu. Kenapa kau tidak mengejarnya? Itu hanya akan membuatnya kecewa.”

Anni. Dia tidak mencintaiku,” putus Kyuhyun yang membuat Jonghyun mengerutkan dahi. “Dia tidak mencintaiku,” ulang Kyuhyun, “ia mencintai orang lain.”

“Kau bercanda, hyung?” Tanya Jonghyun heran. “Apakah wajahku memperlihatkan aku sedang bercanda?” Tanya Kyuhyun berusaha memastikan Jonghyun bahwa ia berkata jujur. “Aku berkata sejujur-jujurnya. Apalagi tidak ada baiknya bagiku untuk berbohong, iya kan?”

Jonghyun hanya bisa menunduk dan menatap anting-anting itu dengan tatapan nanar. “Aku tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya, tapi kupikir… kau salah paham, hyung.”

“Tidak mungkin aku salah paham, Kim Jonghyun. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa Sooyoung berpelukan dengan namja lain. Apakah itu masih dibilang salah paham?” bela Kyuhyun kepada dirinya sendiri.

Tidak menjawab, Jonghyun hanya menaruh anting itu kedalam genggaman Kyuhyun, dan bangkit berdiri. “Pastikan lagi, hyung. Aku tidak mau kau kecewa atau sakit hati,” kata Jonghyun.

Saat ia akan melangkah menjauh, Kyuhyun tiba-tiba memanggilnya, “Jonghyun-ah.” Jonghyun langsung menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Kyuhyun yang kini sedang menatap wajahnya.

“Kapan rencana kau akan menyatakan cinta pada Yeonhee?” Tanya Kyuhyun. “Tidak sekarang,” kata Jonghyun singkat kemudian langsung berjalan cepat pergi dari kamar bernuansa hitam-biru itu.

Sepeninggal Jonghyun, Kyuhyun hanya bisa mendesah pelan dan menatap anting digenggamannya itu. Apakah benar apa yang dikatakan Jonghyun?

***

Sooyoung POV

Semalaman, aku tinggal di rumah sakit, tepatnya di kamar tempat appa dirawat. Karena di dalam ruangan ini terdapat sebuah tempat tidur khusus untuk penjaga pasien, aku masih bisa tidur disana sejenak untuk menghabiskan satu malam terakhirku di Seoul.

Sekarang aku sedang menyiapkan barang-barangku. Mungkin ini terlalu pagi bagiku untuk berangkat ke Gwangju, tapi kurasa ini waktu yang lebih baik karena aku tidak ingin ada hal-hal buruk yang lain terjadi.

Tadi pagi subuh, tiba-tiba Yeonhee meneleponku dan menanyakan keadaanku. Semalaman sebenarnya ia meneleponku, tapi karena baterai handphoneku habis, jadinya aku tidak bisa menerima teleponnya semalaman.

Dia bertanya padaku apa sebenarnya yang terjadi. Ia berkata padaku bahwa kemarin malam Kyuhyun kembali dengan ekspresi marah dan dingin. Kurasa ia marah padaku karena aku pergi meninggalkannya begitu saja. Namun kurasa aku tidak perlu menceritakannya pada Yeonhee, bukan?

Saat aku sedang menyiapkan barang-barangku, tiba-tiba aku mendengar suara pintu ruangan tempat appa dirawat terbuka. Aku bangkit berdiri sejenak dan melirik kearah pintu untuk melihat siapa yang datang, saat aku melihat Jihyo eonni dan teman-teman perawatnya datang sambil membawa sejumlah alat kedokteran.

Jihyo eonni sudah tahu keadaanku, dan ia juga mengerti bahwa aku akan kembali ke Gwangju. Tapi ia tidak melarangku, ia justru mendukungku untuk mencapai apa yang aku inginkan daripada aku harus merasa tertekan tinggal di Seoul.

“Sooyoung-ah, bisakah kau keluar sebentar? Aku akan memeriksa keadaan appa-mu,” kata Jihyo eonni sambil tersenyum manis. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Tanpa menunggu aba-aba, saat ini aku sudah berdiri di depan pintu ruangan sambil menunggu. Kurasa pemeriksaan kali ini lumayan lama, bisa dilihat dari berapa banyaknya alat kedokteran yang tadi Jihyo eonni bawa.

Saat aku sedang menunggu, tiba-tiba aku merasakan ada seseorang menepuk bahuku dua kali. Aku langsung menoleh dan mendapati Siwon sudah berdiri dihadapanku dengan senyum khas-nya terukir di bibirnya.

“Oh, Siwon-ah. Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku penasaran. “Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat,” jawab Siwon singkat yang membuatku mengerutkan kening. “Bisakah kau ikut aku? Jangan lupa bawa barang-barang yang akan kau bawa untuk kembali ke Gwangju.”

“Ah, tidak usah repot-repot. Apa kau mau menghantarku ke Gwangju?” tanyaku bingung. Dia hanya tersenyum sambil mengangkat bahu. “Entahlah. Yang penting aku akan membawamu ke suatu tempat,” jawabnya seperti merahasiakan sesuatu dariku.

Dengan ragu, aku hanya bisa mengangguk pelan. “Ba… baiklah,” jawabku sambil berusaha tersenyum.

Sekitar dua puluh menit kemudian, setelah pemeriksaan appa selesai dilaksanakan, aku segera berpamitan kepada Jihyo eonni dan appa karena aku akan diajak oleh Siwon ke ‘suatu tempat’. Sampai sekarang aku masih tidak mengerti dimana ‘suatu tempat’ itu, tapi aku mempercayakan semua pada Siwon karena aku yakin ia pasti tidak akan macam-macam denganku.

Kami saat ini sudah ada di dalam mobil Siwon, dan Siwon mulai menjalankan mobilnya. Tidak seperti Kyuhyun yang sering sekali menyetir dengan kecepatan maksimal, Siwon menjalankan mobilnya dengan tenang dan kecepatan sedang.

Tiba-tiba aku kembali teringat saat-saat itu. Aku memejamkan mataku perlahan kemudian menggeleng cepat, berusaha mengusir kejadian yang berputar di otakku.

“Ada apa, Soo?” Tanya Siwon sambil tertawa heran. Aku membuka mataku cepat dan menggeleng. “Anniya, tidak apa-apa. Hehehe,” jawabku singkat.

Sepanjang perjalanan, kami hanya bisa tinggal dalam diam karena tidak ada hal yang bisa kami bicarakan. Lumayan lama kami menempuh perjalanan, tapi aku yakin dengan amat sangat, ini bukan perjalanan ke Gwangju. Tapi ini justru menuju ke salah satu daerah gedung-gedung tinggi di daerah Seoul, yang membuatku menatap Siwon heran.

“Kau mau membawaku kemana, sih?” Tanyaku bingung. Siwon hanya tersenyum. “Aku baru saja membelikanmu apartment baru,” jawab Siwon yang membuat mataku terbelalak. “MWO? YAH! Kau mengigau, ya?” tanyaku tidak percaya.

“Kau pikir aku apa? Tentu saja aku tidak mengigau. Aku baru saja memberikanmu apartment baru,” kata Siwon sambil memarkirkan mobilnya di salah satu parkiran sebuah gedung megah yang besar. Ia menarik hand-rem mobilnya kemudian tersenyum kearahku. “Kkaja. Kita turun sekarang,” ajak Siwon.

Aku hanya bisa diam sejenak, kemudian mengikutinya turun dan masuk kedalam gedung apartment. Tak butuh waktu lama, saat ini kami berdua sudah ada di dalam sebuah apartment mewah yang bahkan lebih mewah dari dorm EXO.

Aku termangu tidak percaya. Ini benar-benar mewah. Bahkan aku tidak bisa membayangkan seberapa kerasnya aku harus memeras keringat untuk membayar apartment ini.

“Bagaimana? Kau suka?” Tanya Siwon yang membuatku langsung sadar dari lamunanku. “A… aku… aku tidak bisa berkata apa-apa,” jawabku tidak percaya.

“Sekarang ini sudah jadi apartment-mu. Kau tidak perlu pindah ke Gwangju,” kata Siwon. Aku menaruh koperku, kemudian terdiam.

“Kenapa kau melakukan semuanya?” tanyaku tiba-tiba. Siwon yang daritadi melayangkan pandangannya melihat apartment ini, langsung terdiam dan menatapku. “Karena aku tidak ingin kau meninggalkan Seoul dan hidup sendirian di sana,” jawabnya yang membuatku sedikit tersentak. “Mwo?”

Siwon mengambil sesuatu dari dalam saku jaketnya, kemudian memberikannya kepadaku. Semacam amplop berwarna coklat. Tanpa basa-basi, akupun membukanya. Dan aku lumayan terkejut dengan isinya. Sejumlah uang, dan… sebuah lembar berkas penerimaan pekerjaan.

“A… apa ini?” tanyaku. Dia hanya tersenyum. “Sedikit uang untukmu hidup, dan juga resume penerimaan kerjamu di salah satu restaurant besar di Seoul. Kau tidak keberatan kan, kalau kau bekerja sebagai pelayan disana? Aku takut kau akan marah,” ujar Siwon.

“Kau mencarikan pekerjaan untukku?” tanyaku sambil menatapnya dengan dahi berkerut. Ia mengangguk ragu. Ingin sekali rasanya aku memarahinya. Tidak seharusnya ia ikut campur dalam urusanku, tapi aku juga harus menghargai pekerjaannya. Dia sudah melakukan hal yang sungguh-sungguh membuatku sangat berterimakasih.

Aku menatapnya, kemudian tersenyum, “Kamsahamnida.”

***

Author POV

“Jadi kau, Choi Sooyoung?” Tanya seseorang berpakaian rapi yang saat ini berdiri dihadapan Sooyoung sambil membawa berkas bersampul biru di tangan kanannya. “Ne,” jawab Sooyoung yakin sambil tersenyum.

Ia menatap Sooyoung dari atas ke bawah, kemudian memiringkan kepalanya. “Baiklah. Sandara-ya! Tolong kau berikan kepadanya seragam restaurant kita dan jelaskan kepadanya semua peraturan-peraturan disini,” kata namja itu sambil menatap yeoja yang berdiri tak jauh dari Sooyoung.

Ne, sajangnim,” jawab yeoja mungil bernama Sandara itu sembari membungkuk. Sepeninggalnya namja yang adalah pemilik restaurant besar nan berkelas itu, Sandara langsung berjalan mendekat kearah Sooyoung sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya.

“Choi Sooyoung-ssi, annyeonghaseyo,” sapanya ramah. Sooyoung membalas uluran tangan yeoja itu dan tersenyum. “Ddarawa (Ikut aku),” kata Sandara. Mau tak mau, Sooyoung berjalan mengikuti Sandara ke salah satu ruangan yang hanya boleh dimasuki oleh pelayan. Kemudian, Sandara mengambil sebuah seragam pelayan dan memberikannya pada Sooyoung.

“Ini seragammu, sedangkan name-tag mu akan diberikan di kemudian hari,” jelas Sandara. Sooyoung tersenyum sopan, kemudian menerima seragam itu dengan hormat. “Peraturan-peraturan disini tidak begitu ketat.”

“Kau hanya perlu menghormati para senior-mu disini, tidak boleh datang terlambat satu menit sekalipun, tidak boleh membawa handphone, tidak boleh pulang lebih awal tanpa pemberitahuan di hari-hari sebelumnya, dilarang merokok, tidak boleh berkata kotor, dan hormati para pelanggan. Arachi?”

Sooyoung mengerutkan kening. Namun tak lama kemudian, ia membungkuk. “Ne, algesseumnida (Baiklah, aku mengerti),” jawab Sooyoung kemudian. “Oh iya, satu lagi. Kalau berpakaian harus sopan,” lanjut Sandara.

Sambil tersenyum, Sooyoung mengangguk. “Aku akan bekerja sebaik-baiknya, eonni,” kata Sooyoung sambil membungkuk lagi. Namun, perlakuan Sooyoung membuat Sandara mengerutkan kening. “Kau memanggilku eonni? Tahun berapa kau lahir?” Tanya Sandara.

“90,” jawab Sooyoung singkat saat ia mendongakkan kepalanya. Mendengar jawaban Sooyoung, Sandara langsung tersenyum miris. “Ooh, baiklah,” kata Sandara.

“Apakah aku setua itu?” batin Sandara ragu.

***

“Ah, lelahnya,” gumam Sooyoung sambil menghela nafas dan terduduk di salah satu kursi yang ada di dalam ruang karyawan. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dan menerawang. Tiba-tiba ia teringat satu hal. Yeonhee.

Ia segera merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan sebuah handphone miliknya. Ia memilih untuk mengirimi Yeonhee pesan singkat bahwa ia baik-baik saja.

Yeonhee-ah, aku baik-baik saja.
Bagaimana harimu? Apakah menyenang—

Belum selesai Sooyoung mengetik pesan singkat untuk Yeonhee, tiba-tiba handphone-nya diambil begitu saja. Sooyoung yang terkejut langsung menoleh kearah orang yang mengambil handphone-nya, kemudian terdiam.

“Sudah kubilang, disini tidak boleh ada handphone. Apa kau tidak mendengarkanku dengan seksama tadi?” Tanya Sandara. Sooyoung menunduk. Ia benar-benar menyesali kesalahannya.

“Sebagai hukuman, handphone milikmu aku sita selama satu bulan, ara?” lanjut Sandara yang membuat Sooyoung langsung membelalakkan matanya dan mendongak untuk menatap Sandara.

“Dara eonni, jebalyo… aku kan, masih—“ “Masih apa? Peraturan tetap peraturan, Choi Sooyoung,” kata Sandara. Sooyoung hanya bisa mengerucutkan bibirnya.

“Maaf karena aku tidak bisa melindungimu dari peraturan ini. Aku hanya melaksanakan tugasku sebagai pengawas karyawan, Choi Sooyoung. Jeongmal mianhae,” kata Sandara. Sooyoung langsung menunduk.

***

Other place…

“Kyu,” sapa seseorang dengan suara khasnya. Sedangkan yang dipanggil hanya bisa terduduk diam di sofa-nya sambil menerawang kedepan. “Kyu,” panggilnya lagi. Tetap hening dan tidak ada jawaban. “KYU!”

“Aigoo! Hyung!” protes namja bernama Kyuhyun itu sambil memegangi telinganya yang baru saja menerima teriakan keras dari namja bernama Donghae, member Super Junior yang kini duduk di sebelahnya.

“Kau itu kenapa? Melamun lagi?” Tanya Donghae frustasi. Kyuhyun hanya mendecak. “Sebenarnya ada apa sih denganmu? Bukannya seharusnya kau senang? Hari ini, kau akan bertemu dengan manajer barumu, iya kan?”

Bukannya menjawab, Kyuhyun hanya menatap lurus kedepan. Dan pada saat itu juga, Donghae mengerutkan keningnya. “Kau benar-benar tidak ada hubungan dengan Sooyoung, mantan manajermu itu, kan?” Tanya Donghae.

Mendengar pertanyaan Donghae, Kyuhyun langsung menoleh kearah namja yang berumur tiga tahun dua tahun lebih muda darinya itu dan memincingkan mata. “Ne?”

Anniya. Semenjak skandal-mu waktu itu, kami, member Super Junior berpikir apakah kalian punya hubungan atau tidak,” ujar Donghae menjelaskan. Kyuhyun hanya menghela nafas dan bangkit berdiri. “Yak, Kyu! Kau mau kemana?” Tanya Donghae bingung.

“Hanya berkeliling di sekitar gedung, hyung,” jawab Kyuhyun singkat. Ia kemudian berjalan keluar dari ruangan istirahat, meninggalkan Donghae yang duduk sendirian di dalam ruangan itu. “Ada apa dengan anak itu,” gumam Donghae.

***

Kyuhyun POV

Aku benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaan Donghae hyung dengan baik. Otakku seakan mati. Lumpuh. Aku nyaris tidak bisa menggerakkan bibirku untuk berbicara. Aku menggeleng-geleng. Apa ini semua karena Choi Sooyoung?

Aku memutuskan untuk berjalan-jalan keliling gedung saja. Sebenarnya hari ini tidak ada yang penting, hanya akan bertemu dengan Sooman seonsaengnim karena hari ini adalah hari pertama kami bertemu dengan manajer baru kami.

Saat aku berjalan melewati tangga darurat, tiba-tiba aku tidak sengaja bertemu dengan Seohyun. Aku hanya menatap wajahnya datar, kemudian berniat untuk kembali berjalan. Tapi ia langsung mencegatku.

“Bisakah kita berbicara sebentar? Di restaurant langgananku?” tanyanya. Aku terdiam. “Jebal,” pintanya. Tidak enak hati, aku menggerakkan kepalaku mengangguk. Melihat jawabanku, ia tersenyum.

Sekitar sepuluh menit kemudian, kami berdua sudah sampai di salah satu restaurant elit nan megah, yang katanya adalah restaurant langganan milik Seohyun. Pemiliknya adalah teman lamanya, katanya.

Aku hanya mengikuti dia turun dari dalam mobil, dan masuk kedalam restaurant itu. Tapi aku masih berfikir, sebenarnya apa yang ingin ia katakan?

***

Sooyoung POV

Saat aku sedang melayani pelanggan, tiba-tiba Sandara mendatangiku dan berbisik. “Ada pelanggan, Soo. Tolong kamu gantikan Junho oppa. Ia sedang ada di kamar mandi sekarang,” kata Sandara eonni, memintaku untuk menggantikan Junho oppa sebagai penerima pelanggan.

Aku mengangguk, kemudian berjalan kearah pintu masuk untuk membukakan pintu. Begitu aku membukakan pintu, aku langsung membungkuk hormat. “Oseo oseyo,” sapaku sopan.

Namun, ketika aku mendongakkan kepalaku, aku sangat terkejut dengan siapa yang datang. Senyumku yang tadinya aku umbarkan pudar, berubah menjadi raut wajah terkejut, kecewa, dan sedih.

Tatapan kami bertemu. Aku hanya bisa berdiri terpaku, sedangkan orang yang bertemu denganku itu langsung mengalihkan tatapannya dariku. Sandara eonni datang, dan menghancurkan lamunanku.

“Esh, Soo! Apa yang kau lakukan!” bisik Sandara eonni, protes dengan caraku melayani tamu. “Oseo oseyo, berapa orang?” Tanya Sandara eonni melayani dua manusia yang baru saja datang kedalam restaurant tempat aku bekerja.

Aku masih tetap diam, berdiri ditempat. Bagaimana bisa… aku bertemu dengannya lagi? Kenapa waktu… aneh sekali?

TBC

***

 Bagaimana? KKK.
Semakin jelek kah ceritanya?
Mianhae, yaa~ aku belum bisa memuaskan kalian.
Apalagi aku ngepost-nya lama banget, itu karena
ideku yang lagi buntu dan aku masih ada di Singapore.
Jangan lupa RCL please (:
Jelek-jelek begini harus dihargai kerja keras saya^^
Thankyou~

Advertisements

43 thoughts on “It’s Hurt [Part 12]

      • omo.. ketemu kyuppa yaah ?
        aigoo, makin rumit,
        kyuppa salah paham lgi.. huaaa~~

        eonnie postnya jgn lama lagi yaah..
        soalnya aku jdi lupa jalan ceritanya(kebanyakan baca FF sihh) *plaak*
        hehehehe.. Noumu Daebak *gitu yah tulisannya*

        Keep Going !! Hwaiting !! 😉

  1. waaa, itu kyuyoung salah paham semua
    kasihan soo
    mksih wonppa, tp jgn cinta ama soo y

    KYUYOUNG JJANG 😀

    next part d tnggu 😀

  2. Udh part 12 lg nih
    q tnggu next part ne…
    Part ini kya’a lbih pndek dri part yg lain’a kya’a.. Atw q bca kcptan, tp biarlah yg pnting cepet publish dan lnjut terus..

  3. Wooowww jgn jgn kyu

    ╯︿╰╯︿╰╯︿╰╯︿╰╯︿╰╯︿╰╯︿╰o(╯□╰)oo(╯□╰)oo(╯□╰)oo(╯□╰)oo(╯□╰)oo(╯□╰)oo(╯□╰)o-_-///-_-///-_-///-_-///-_-///Σ( ° △ °|||)︴Σ( ° △ °|||)︴Σ( ° △ °|||)︴Σ( ° △ °|||)︴Σ( ° △ °|||)︴( ̄▽ ̄)~■□~( ̄▽ ̄)( ̄▽ ̄)~■□~( ̄▽ ̄)( ̄▽ ̄)~■□~( ̄▽ ̄)( ̄▽ ̄)~■□~( ̄▽ ̄)( ̄▽ ̄)~■□~( ̄▽ ̄)

  4. . Ketemu kyu \o.o/
    . Brasa pendek._. Tp gapapa jg sih u.u kkk
    . Kyuyoung salah paham–” nxt part dtnggu…

  5. Annyeong chingu..
    Aku vie_mill (ganti uname nih)
    Wah..itu kyuppa yah??
    Omo :O
    ribet banget kisah cintanya chingu..
    Vic itu eonninya soo eon?
    Aku baru tau kalo vic bermarga choi..

    Next part jangan lama2 chingu.. 🙂
    oh ia,the last tear nya aku juga tunggu..kkeke 😀

    • yakh..
      Kyu salah paham ama soo -__-
      pdhalkan soo ga seperti yg dipkirkan kyu,
      soo itu cinta bget ama kyu..

      Huaah..
      Siwon baek bget ama soo..
      Untg aja siwon selalu ada saat soo ada masalah 🙂

      pasti itu yg dtang kerestoran tmpat soo kerja seokyu.. -,-

      next part ditunggu 🙂

  6. Akhirnya part 12 hadir.. sekian lama menunggu (?)
    Nah… Sooyoung eonni ketemu siapa ?? ketemu kyuhyuhn oppa kah?? aigooo.. semoga iya !!!
    next part ditunggu

  7. Soo eonni adik.y Vic ??
    Aish, pling gk suka klo Kyuyoung udh slah paham gni..
    Siwon oppa, kw trlalu baik..
    Nah pasti Kyu oppa n Seo kn yg dtang??
    Next ya. Fighting ^^/

  8. Uah…
    TBC aja nih…
    Belum puas! kkk~

    Kyu, jangan marah gitu dong…
    Ini cuma salah paham… Ya kan Thor?
    wkwkwk~

    Jodoh ga bakal kmana!
    Fighting…

    Next jangan lama2 ya thor..
    Hwaiting!

  9. haduhh kyuppa pake acara salah paham segala, makin complicated aja masalahnya,
    nah, soo eonnie ketemu kyuppa lagi berdua sama seo, gimana reaksi kyuppa yah???
    tetap d.tunggu lanjutannya 🙂

  10. Pasti yang diliat Soo onnie tu Kyu oppa ama Seo. . . .

    Kenapa Kyu oppa salah paham kyak gtu? ? Soo onnie masih sngat mencintai oppa koq n Soo onnie gak ada hub apa-apa kok ma Siwon oppa,, ,

    Won oppa kyaknya syang bnget deh ama Soo onnie, ampe dibeliin apartemen mewah diberi uang ama di’cariin pekerjaan lagi. . .ckck

    Next part’a jngan lama” ya. . .

  11. Ku kira ff ini bakal berhenti tengah jalan, tapi trnyata dilanjutin!!!!! Ahhh seneng bggttt….
    ~(˘▿˘~) (~˘▿˘)~
    Kyuppa jgn sotoy(?) Dulu…!! Itu siwon nenangin soo unnie…
    Ahhh!!! Daebakkk!!!!!!!!! Ayo lanjuuttt!! Hwaiting!!

  12. siwon oppa baik banget ma soo..
    wah…ternyata vic eonnie kakaknya soo #ganyangka
    aigoo~ kyu oppa kau salah paham

    ditunggu part selanjutnya 🙂

  13. aahh itu pasti Kyuppa.. aiishh nii crita smakin rumit aja.. tapi sumpah bagus bnget.. ^^ kapan yaa kira2 KyuYoung bersatu lgii… ahh.. msti nunggu ampe part 20 kyak.a /plakk

    Aduuhh Kyuppa, marah2 lgii, salah paham lgii.. Kapan kalian akan bersatuu.. uu uuu -_-

    Next part di tunggu eon
    …^FIGHTHING^…

  14. Akhh.. Siapa? Vict ahjumma? Atau exo? Tapi kalau exo mereka biasanya histeris.. #plakk

    Vict ahjumma itu kaka soonnie kan? #plakk.. Ngasal..

    Next d tunggu.. Fighting

    Ohh.. Adik saeng namanya rio ya?

  15. omo soo ketemu ma kyu di restoran kasihan soo…siwon keren banget ngasih soo apartement mewah and uang saku…kata’a pemilik restoran’a temen’a seo pasti nanti soo dibuat susah lg..lanjut chingu

  16. haduuh,hidupnya soo eonni rumit bngt sih. eonni,bikin cerita jangan nyengsarain soo eonni ngapa,jahat bngt dah. tapi DAEBAAAAK,ceritanya tambah keren tambah bikin tegang hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s